Langsung ke konten utama

Pian

Awan yang indah, cahaya yang hampir sempurna menutupi setengah matahari yang bersinar terasa perih dikulit. seakan dari balik gedung itu suara yang lantang "berikan pada ku" Pian lelaki itu. Keringat yang berjatuhan terus, dari kepala hingga ke kakinya yang sedang berlari. Beberapa dari temannya seakan menjadi pemain profesional dengan menggiring kulit bundar kecil, napas yang perlahan hampir habis di paksanya untuk berlari. Di lapangan sekolah menengah pertama nya itu, senja pun hampir pergi, beberapa dari nya tak mampu lagi untuk berjalan, serasa kaki mau copot dari tempatnya, rasa dahaga semakin terasa, melihat mereka tak membawa minuman yang berwarna, dingin, serta manis yang dipikirkan Pian. Perlahan menghampiri dan naik di mesin tua, yang sering mengantarkannya kemana – mana itu, dengan di tariknya gas motor dengan perlahan, sambil menikmati angin yang menyejukan, pian melihat gadis itu saat pandangan nya beralih ke sebelah kanan. Gadis sepintas yang di kenalinya.















Komentar

  1. Ini sudah baik. Hanya tinggal menambahkan beberapa tambahan kata yang membuat suatu karya itu menjadi sangatlah indah untuk dibaca dan dapat dengan mudah dipahami

    BalasHapus

Posting Komentar