Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

Pian

Tempat kemarin, yang menjadi tempat favorit Pian untuk menikmati Kopi di datangi nya kembali. ( Sebenarnya bukan tempat favorit sih,. Cuman numpang wifi gratis hahahaha ). Tempat yang begitu ramai di datangi orang, terdengar obrolan remaja usia 15 tahun mendominasi tempat itu. Semakin lambat akses Internet yang ada diponselnya, pian semakin kesal dan di letakannya kembali ponsel di meja itu, di lanjutkan minum kopi hitam yang hampir habis. Suara dari ponsel itu berbunyi, Ia segera melihat dengan cepat, dikira nya penting. Terlihat dari layar itu, nomor yang tak pernah masuk di percakapan whatsapp nya, " Save ya ka” , kata gadis itu. Pian tersenyum dengan jantung yang mulai berdebar, perlahan mulai kencang, sambil melihat foto gadis itu. Tanpa lama Pian membalas “Oke Dee” , ”Makasih” Berlangsungnya di baca dan di balas gadis itu. Balqis nama dari gadis yang di lihat Pian sore itu, dan Balqis masih berada di jenjang Sekolah Menengah Atas atau (SMA) kelas XII, calon mahasiswa ke...

Pian

Senja yang kini hilang perlahan langit kini hitam dan rembulan itu sangat terang, malam yang cerah. Perut sudah terisi, Pian segera pergi dengan jaket hitam yang pudar kesayangan nya itu, pemberian beberapa bulan yang lalu oleh ibundanya. Bergegas dengan cepat menemui kawan – kawan lama yang setiap hari bertemu dengan nya, sembari merokok dengan kongko – kongko hangat seraya tertawa. Ponsel itu berbunyi terlihat perempuan yang tak asing memberikan tulisan permintaan. “Ka, Boleh Minta Nomor Whatsapp nya ?” kiranya begitu ucapannya yang dituliskan. Pian sejenak berfikir melihat pesan masuk yang dia terima, dengan perasaan yang ragu, “apakah benar dia ?” bertanya pada dirinya sendiri, seakan tak percaya, barusan Pian melihat gadis itu tadi sore. Tak berlama – lama di berikan nomor whatsapp miliknya yang sering digunakan. “081xxxxxxxxx, ini” di balas dengan pian yang tersenyum. Diletakkan nya kembali ponsel itu dan mengganti kan dengan rokok yang mau dinyalakan. Kopi yang hampir dingi...

Pian

Awan yang indah, cahaya yang hampir sempurna menutupi setengah matahari yang bersinar terasa perih dikulit. seakan dari balik gedung itu suara yang lantang "berikan pada ku" Pian lelaki itu. Keringat yang berjatuhan terus, dari kepala hingga ke kakinya yang sedang berlari. Beberapa dari temannya seakan menjadi pemain profesional dengan menggiring kulit bundar kecil, napas yang perlahan hampir habis di paksanya untuk berlari. Di lapangan sekolah menengah pertama nya itu, senja pun hampir pergi, beberapa dari nya tak mampu lagi untuk berjalan, serasa kaki mau copot dari tempatnya, rasa dahaga semakin terasa, melihat mereka tak membawa minuman yang berwarna, dingin, serta manis yang dipikirkan Pian. Perlahan menghampiri dan naik di mesin tua, yang sering mengantarkannya kemana – mana itu, dengan di tariknya gas motor dengan perlahan, sambil menikmati angin yang menyejukan, pian melihat gadis itu saat pandangan nya beralih ke sebelah kanan. Gadis sepintas yang di kenalinya. ...