Langsung ke konten utama

Postingan

Sebuah Rasa

Seminggu selepas kau terima surat itu, ku menunggu kata - kata balik darimu. Namun tak ada sedikit dalam pengharapan ku itu, sudah saat nya harapan ku tenggelam dalam sebuah penantian. Ku terlalu larut dalam jurang yang dalam, mencoba terus merangka naik dan menjauh, namun jatuh lebih dalam lagi di jurang yang berbeda. Ku telusuri dan ku temui sebuah jawaban yang kini menjadi jalan akhir. Tanpa cahaya, hanya hitam tak berbatas, kini kembali ku rasa, rasa yang sama namun enggan tuk pergi , terjerat lagi. Haruskah menunggu esok ? , menanti rasa itu, yang setiap hari nya sama. 
Postingan terbaru

Surat buat si doi

Seminggu lalu kita berkenalan dengan begitu sempurna yang pernah kurasakan. Seminggu lalu juga niat ku untuk mendekati mu, tak tau dari mana perasaan itu muncul. Ini sebenarnya bukan puisi atau pun apa. yaa !!hanya perasaanku yang mau ku sampaikan tapi takut untuk ku ucapkan pada mu. Kita memang tak pernah ketemu, bukan tak mau,tapi maluku yang menghalangi semua ini. Juga bukan ku terlalu puitis menggunakan kata – kata ini, hanya saja ingin memudahkan mu mengetahui perasaanku sebenarnya J . Aku cuman bisa melihat mu dari kejauhan dan menanyakan mu pada teman mu, juga temanku. Aku takut ini terlalu berlebihan buat mu, tapi ini caraku bagaimana menyatakannya .Aku tak tau bagaimana perasaanmu padaku, bagaimana nantinya ? aku tak tau. Mungkin tulisan ini akan mengakhiri percakapan ku pada mu di whatsapp, bukan tak mau. Kira nya nanti kau habiskan bacaan ini sampai selesai aku akan merasa takut, malu, buat menghubungimu lagi jika pengharapanku habis sirna begitu saja. Takut kira nya aku m...

Pian

Tempat kemarin, yang menjadi tempat favorit Pian untuk menikmati Kopi di datangi nya kembali. ( Sebenarnya bukan tempat favorit sih,. Cuman numpang wifi gratis hahahaha ). Tempat yang begitu ramai di datangi orang, terdengar obrolan remaja usia 15 tahun mendominasi tempat itu. Semakin lambat akses Internet yang ada diponselnya, pian semakin kesal dan di letakannya kembali ponsel di meja itu, di lanjutkan minum kopi hitam yang hampir habis. Suara dari ponsel itu berbunyi, Ia segera melihat dengan cepat, dikira nya penting. Terlihat dari layar itu, nomor yang tak pernah masuk di percakapan whatsapp nya, " Save ya ka” , kata gadis itu. Pian tersenyum dengan jantung yang mulai berdebar, perlahan mulai kencang, sambil melihat foto gadis itu. Tanpa lama Pian membalas “Oke Dee” , ”Makasih” Berlangsungnya di baca dan di balas gadis itu. Balqis nama dari gadis yang di lihat Pian sore itu, dan Balqis masih berada di jenjang Sekolah Menengah Atas atau (SMA) kelas XII, calon mahasiswa ke...

Pian

Senja yang kini hilang perlahan langit kini hitam dan rembulan itu sangat terang, malam yang cerah. Perut sudah terisi, Pian segera pergi dengan jaket hitam yang pudar kesayangan nya itu, pemberian beberapa bulan yang lalu oleh ibundanya. Bergegas dengan cepat menemui kawan – kawan lama yang setiap hari bertemu dengan nya, sembari merokok dengan kongko – kongko hangat seraya tertawa. Ponsel itu berbunyi terlihat perempuan yang tak asing memberikan tulisan permintaan. “Ka, Boleh Minta Nomor Whatsapp nya ?” kiranya begitu ucapannya yang dituliskan. Pian sejenak berfikir melihat pesan masuk yang dia terima, dengan perasaan yang ragu, “apakah benar dia ?” bertanya pada dirinya sendiri, seakan tak percaya, barusan Pian melihat gadis itu tadi sore. Tak berlama – lama di berikan nomor whatsapp miliknya yang sering digunakan. “081xxxxxxxxx, ini” di balas dengan pian yang tersenyum. Diletakkan nya kembali ponsel itu dan mengganti kan dengan rokok yang mau dinyalakan. Kopi yang hampir dingi...

Pian

Awan yang indah, cahaya yang hampir sempurna menutupi setengah matahari yang bersinar terasa perih dikulit. seakan dari balik gedung itu suara yang lantang "berikan pada ku" Pian lelaki itu. Keringat yang berjatuhan terus, dari kepala hingga ke kakinya yang sedang berlari. Beberapa dari temannya seakan menjadi pemain profesional dengan menggiring kulit bundar kecil, napas yang perlahan hampir habis di paksanya untuk berlari. Di lapangan sekolah menengah pertama nya itu, senja pun hampir pergi, beberapa dari nya tak mampu lagi untuk berjalan, serasa kaki mau copot dari tempatnya, rasa dahaga semakin terasa, melihat mereka tak membawa minuman yang berwarna, dingin, serta manis yang dipikirkan Pian. Perlahan menghampiri dan naik di mesin tua, yang sering mengantarkannya kemana – mana itu, dengan di tariknya gas motor dengan perlahan, sambil menikmati angin yang menyejukan, pian melihat gadis itu saat pandangan nya beralih ke sebelah kanan. Gadis sepintas yang di kenalinya. ...

642K18

Ketika malam tiba, rasa sepi menghampiri. Semakin terbayang wajah seseorang yang menyakiti, seperti hantu yang mengikuti. ‌Malam ini malam dimana dia telah bahagia, dan malam ini, malam seseorang luka tanpa darah, Pedih terus bersama. ‌Terbayangkan kita beriringan, Bagai pungguk merindukan bulan. ‌Harapan tinggi membuat semakin sakit, yang harus berjuang tanpa berhenti, meski perih terus mengikuti. ‌ Haruskah menunggu ? Sesuatu yang tak kunjung utuh. Bagai burung tak berbulu. 

Kata hati

Seandainya hati ini bisa bicara, bisa menagis pasti dia tak akan menerima mu kembali. Angin, ombak seandainya bicara pasti dia tau apa rasanya. Mulut tak mampu bicara, air mata tak lagi menetes. Diri ini tak seperti dirinya yang mempunyai sejuta material, apa daya, raga ini hanya punya apa yang ada didirinya. Dengan kebanggaan pakaian yang menempel, celana yang tak karuan. Langit mungkin tau apa yg ku rasakan sampai perlahan meneteskan air. Sehingga dingin cepat merambat dalam tubuh, agar bisa menenangkan hati yang tak tau bagaimana bentuk nya. Sebatang rokok yang mengandung racun perlahan mematikan, sehingga perih tak dapat terasa.  Bingung dengan perasaan ku yang terus menerus ingin bersamamu, tapi. Bagaimana dengan hati yang terlanjur luka dengan tingkah mu. Sekarang! setia dibalas dengan luka yang tak kunjung sembuh. Saya bertanya pada diri ini apakah siapa? Apakah saya siap?  Tak bisa bersamamu, Ibarat jalan satu arah yang ujungnya tak kan bertemu dan seperti batu yang i...