Langsung ke konten utama

Pian

Tempat kemarin, yang menjadi tempat favorit Pian untuk menikmati Kopi di datangi nya kembali. ( Sebenarnya bukan tempat favorit sih,. Cuman numpang wifi gratis hahahaha ). Tempat yang begitu ramai di datangi orang, terdengar obrolan remaja usia 15 tahun mendominasi tempat itu. Semakin lambat akses Internet yang ada diponselnya, pian semakin kesal dan di letakannya kembali ponsel di meja itu, di lanjutkan minum kopi hitam yang hampir habis. Suara dari ponsel itu berbunyi, Ia segera melihat dengan cepat, dikira nya penting. Terlihat dari layar itu, nomor yang tak pernah masuk di percakapan whatsapp nya, "Save ya ka”, kata gadis itu. Pian tersenyum dengan jantung yang mulai berdebar, perlahan mulai kencang, sambil melihat foto gadis itu. Tanpa lama Pian membalas “Oke Dee”,”Makasih” Berlangsungnya di baca dan di balas gadis itu. Balqis nama dari gadis yang di lihat Pian sore itu, dan Balqis masih berada di jenjang Sekolah Menengah Atas atau (SMA) kelas XII, calon mahasiswa kedokteran (Ammiin). Balqis menurut pian cantik, imut dan banyak lagi darinya yang pian suka, lantas awal Pian menyukainya. Pian yang tersenyum tak ada habisnya, dengan sedikit demi sedikit minuman favoritnya dikala malam itu di minum dengan pelan sampai terasa pahit di lidahnya. Sembari menikmati bintang yang seakan tersenyum, malam yang indah buat Pian.  Malam yang semakin dingin seakan mengusir pian yang sedang berbunga hatinya, lantas ia beranjak untuk pergi dari tempat itu. Dengan berjalan ke meja kasir, untuk membayar minuman yang di minumnya. Pian naik mesin tua itu menuju kediaman nya, dengan pikiran yang melayang – layang memikirkan wajah gadis itu ( Mabuk cinta, kata orang). Tempat dimana nyaman itu, ialah rumah untuk kembali. Tak menghitung minggu, Pian harus pergi untuk melanjutkan kewajibannya sebagai Mahasiswa, dengan rasa yang begitu dalam kerinduan nya ke teman – teman barunya. Pian yang terus bersama ponselnya itu, seakan tak mau terpisahkan. Foto Balqis yang di lihatnya, semakin membuat tersenyum, sampai mata terasa berat di bukanya lagi, tertutup perlahan hingga terlelap.


Komentar